Minggu, 31 Januari 2010

NIKAHNYA OMFAHRI



NIKAHNYA OMFAHRI

Pada hari minggu tanggal 31-01-2010 omFahri menikah dengan tante Rini,Omfahri dan tanteRini rumahnya sangat dekat tinggal melewati tiga rumah, omFahri dan tante Rini menikah di GedungBudiSasono sukoharjo,aku dan keluargaku naik mobil agar bisa ke Gedung budi sasono, di sana sangat menyenangkan di beri makanan dan di beri minuman, banyak sekali orang yang diundang di pernikahan om Fahri dan tante Rini, aku di sana ber foto sebanyak tiga kali yang pertama aku, keluargaku dan omFahri dan tanteRini,, dan yang ke dua aku dan semua saudaraku yang anak - anak dan om Fahri fahri dan tante Rini,, dan yang ke tiga aku dan keluargaku dan setelah ber foto semua keluargaku lalu pulang

ANDRAMUKTI, 31 jan 2010

Sabtu, 09 Januari 2010

MOBIL SETAN




MOBIL SETAN

Pada waktu siang hari aku melihat ada mobil setan yang bisa ber jalan sendiri padahal tidak ada yang mengerakannya, mobil itu meng etrel - ngetrel seperti mobil yang mengetrel, mobil setan itu sedang menabrak nabrak mobil Hotwils yang bentuknya seperti motor, mobil setan itu sedang mengamuk sehingga menabrak - nabrak mobil Hotwils yang bentuknya seperti motor, mobil ini ber aktraksi sendiri tanpa ada orang yang mengerakkanya, mobil setan ini seperti mobil yang kesurupan setan yang sedang mengamuk, sebenarnya mobil itu adalah mobil hotwils adikku kemudian mobil itu bisa berjalan sendiri kemudian aku rekam dari jarak jauh yang kemudian aku dekatkan sehinga bisa terlihat jelas




Andra mukti 9januari 2010

Sabtu, 02 Januari 2010



pada waktu sore hari aku dan temanku bondan bermain skeeadboard di samping rumahku aku belum terlalu lancar untuk keseimbangan, cara bermain skeeadboar cukupsulit kita harus menyeimbangkan diri dan tetap berhati - hati kalau tidak berhati - hati nanti bisa jatuh kalau jatuh nanti rasanya sangat sakit sekali, aku senang sekali bermain skeedboar hampir setiaphari aku bermain skeedboard didekat rumahku, temanku Bondan sangat jago bermain skeedboard




Andra mukti, 2 januari 2010

Mancing Lele



PADA SUATU HARI AKU MANCING LELE YANG SANGAT MAKNYUS AKU MAN CING DENGAN DAFFA ADIKKU, PAKDE KU , DAN SAUDARA KU, AKU DAN SEMUANYA BALAPAN MEMANCING LELE, yang mendapat pertama adikku, yang kedua pakdeku dan ketiga aku, kemudian aku mendapatkan lele lima ekor dan pakdeku dapat lele empat ekor, dan adikku mendapat lele cuma tiga ekor, kemudian senarku putus termakan ikan, kemudian adikku mendapat lima ekor, dan ikan lele yang di pancing sudah mendapat limabelas ekor, kemudian ikan lele itu di bakar delapan ekor ikan lele, dan sisanya untuk dimakan besok, kemudian ikan itu di goreng setengah matang, kemudian ikan itu dibakar dan setelah dibakar kemudian dimakan bersama - sama rasa ikan itu sangat maknyus sekali




Andramukti, 2januari 2010

Senin, 28 Desember 2009

MENAIKI GUNUNG GANDUL


WAKTU ITU KETIKA LIBURAN SEMESTER 1 AKU PERGI KETEMPAT EYANG KU, AKU JALAN – JALAN KE GUNUNG GANDUL AKU KESANA DENGAN ADIK KU, EYANG KU DAN SAUDARAKU, AKU INGIN SEKALI NAIK KE PUNCAK GUNUNG GANDUL YAITU LETAKNYA DI WONOGIRI, AKU DAN SEMUANYA SEDANG MENAIK KI GUNUNG DENGAN PENUH SEMANGAT UNTUK MENAIKI KE PUNCAK NYA DAN ADIKKU TIDAK INGGAN NAIK KE PUNCAK TETAPI ADIKKU HANYA INGGIN JALAN – JALAN KEGUNUNG SAJA, AKU MENIPU ADIKU TIDAK NAIK KE PUNCAK TETAPI CUMA JALAN – JALAN SAJA, KETIKKA BERADA DI TENGAH – TENGAH PERJALAN ADIK KU BERKATA”LHOH KOK JALANYA DARITADI JALANYA NAIK TERUS? KATANYA TIDAK NAIK KE PUNCAK” DAN SETE LAH ADIKKU TAU MAUNAIK KEPUNCAK ADIKKU SERING MENGAJAK PULANG BER KALI – KALI, SETELAH HAMPIR SAMPAI DI PUNCAK ADIK KU TIDAK MAU KEATAS DAN EYANG PUTRIKU TERPAKSA MENJAGA ADIKKU DISITU, KEMUDIAN AKU, SAUDARAKU DAN EYANG KU NAIK KE PUNCAK YANG MEMIMPI JALANYA ADALAH EYANGKU, JALAMYA SANGAT SEMPIT KALAU ELIHAT KE BELAKANG NANTI BISA KETAKUTAN, SETELAH SAMPAI DI PUNSAK RASANYA SANGAT SENANG, SETELAH LIMAMENIT BERARDA DI PUNCAK ADIKKU MENG SMS AKU DISURUH PULANG DAN

SELESAI
ANDRA MUKTI, 27 DESEMBER 2009

Kamis, 24 Desember 2009

Merkurius




Karakteristik edaran (Epoch J2000)

Sumbu Semi-mayor 57.909.068 km (0,38709821 AU)
ksentrisitas edaran 0,205 30294
Perihelion 46.001.210 km (0,30749909 AU)
Aphelion 69.816.927 km (0.46669733)
Periode Sinodik 115.88
kecepatan edaran rata-rata 47,87 km/s
Inklinasi 7.005015818° (3,38° terhadap katulistiwa matahari)
Lintang dari noktah naik 348,739 36°
Argumen periapsis 114,207 83°
Satelit alami Tidak ada

Ciri-ciri fisik

Rata-rata Jari-jari 2439,7 ± 1 km (0,3829 Bumi)
Kepepatan <0.0006
Luas permukaan 7.48×107 km2 (0.108 Bumi)
Volume 6,083×1010 [[km3]] (0,054 Bumi)
Massa 5,9736×1024 kg
Kepadatan 5,427 g/cm³
Gravitasi permukaan katulistiwa 3,7 m/s² (0,38 gee)
Kecepatan Lepas 4,25 km/s
Hari sideris 58 hari 15,5 jam
Kecepatan Putar 10,892 km/h = 465,11 m/s (di katulistiwa)
Kemiringan Sumbu 0,01°
Kenaikan kanan dari kutub utara 281,01° (18 j 44 men 2 s)
Deklinasi 61,45°
Albedo 0.119

Merkurius

Merkurius adalah planet di terkecil di dalam tata surya dan juga yang terdekat dengan Matahari dengan kala revolusi 88 hari. Kecerahan planet ini berkisar diantara -2 sampai 5,5 dalam magnitudo tampak namun tidak mudah terlihat karena sudut pandangnya dengan matahari kecil (dengan rentangan paling jauh sebesar 28,3 derajat.
Merkurius hanya bisa terlihat pada saat subuh atau maghrib. Tidak begitu banyak yang diketahui tentang Merkurius karena hanya satu pesawat antariksa yang pernah mendekatinya yaitu Mariner 10 pada tahun 1974 sampai 1975. Mariner 10 hanya berhasil memetakan sekitar 40 sampai 45 persen dari permukaan planet. Mirip dengan Bulan, Merkurius mempunyai banyak kawah dan juga tidak mempunyai satelit alami serta atmosfir. Merkurius mempunyai inti besi yang menciptakan sebuah medan magnet dengan kekuatan 0.1% dari kekuatan medan magnet bumi. Suhu permukaan dari Merkurius berkisar antara 90 sampai 700 Kelvin (-180 sampai 430 derajat selsius), Pengamatan tercatat dari Merkurius paling awal dimulai dari jaman orang Sumeria pada milenium ke tiga sebelum masehi.
Bangsa Romawi menamakan planet ini dengan nama salah satu dari dewa mereka, Merkurius (dikenal juga sebagai Hermes pada mitologi Yunani dan Nabu pada mitologi Babilonia). Lambang astronomis untuk merkurius adalah bstraksi dari kepala Merkurius sang dewa dengan topi bersayap diatas caduceus.
Orang Yunani pada jaman Hesiod menamai Merkurius Stilbon dan Hermaon karena sebelum abad ke lima sebelum masehi mereka mengira bahwa Merkurius itu adalah dua benda antariksa yang berbeda, yang satu hanya tampak pada saat matahari terbit dan yang satunya lagi hanya tampak pada saat matahari terbenam. Di India, Merkurius dinamai Budha (बुध), anak dari Candra sang bulan. Di budaya Tiongkok, Korea, Jepang dan Vietnam, Merkurius dinamakan "bintang air".
Kandungan udara
Orang-orang Ibrani menamakannya Kokhav Hamah ( כו כב חמה ), "bintang dari yang panas" ("yang panas" maksudnya matahari). Diameter Merkurius 40% lebih kecil daripada Bumi (4879,4 km), dan 40% lebih besar daripada Bulan. Ukurannya juga lebih kecil (walaupun lebih padat) daripada bulan Jupiter, Ganymede dan bulan Saturnus, Titan.

Struktur Dalam
Dengan diameter sebesar 4879 km di katulistiwa, Merkurius adalah planet terkecil dari empat planet kebumian di Tata Surya. Merkurius terdiri dari 70% logam dan 30% silikat serta mempunyai kepadatan sebesar 5,43 g/cm3 hanya sedikit dibawah kepadatan Bumi. Namun apabila efek dari tekanan gravitasi tidak dihitung maka Merkurius lebih padat dari Bumi dengan kepadatan tak terkompres dari Merkurius 5,3 g/cm3 dan Bumi hanya 4,4 g/cm3.
Kepadatan Merkurius digunakan untuk menduga struktur dalamnya. Kepadatan Bumi yang tinggi tercipta karena tekanan gravitasi, terutamanya di bagian inti. Merkurius namun jauh lebih kecil dan bagian dalamnya tidak terdapat seperti bumi sehingga kepadatannya yang tinggi diduga karena planet tersebut mempunyai inti yang besar dan kaya akan besi.
Para ahli bumi menaksir bahwa inti Merkurius menempati 42 % dari volumenya (inti Bumi hanya menempati 17% dari volume Bumi). Menurut riset terbaru, kemungkinan besar inti Merkurius adalah cair. Mantel setebal 600 km menyelimuti inti Merkurius dan kerak dari Merkurius diduga setebal 100 sampai 200 km. Permukaan merkurius mempunyai banyak perbukitan yang kurus, beberapa mencapai ratusan kilometer panjangnya.
Diduga perbukitan ini terbentuk karena inti dan mantel Merkurius mendingin dan menciut pada saat kerak sudah membatu. Merkurius mengandung besi lebih banyak dari planet lainnya di tata surya dan beberapa teori telah diajukan untuk menjelaskannya.
Teori yang paling luas diterima adalah bahwa Merkuri pada awalnya mempunyai perbandingan logam-silikat mirip dengan meteor Kondrit umumnya dan mempunyai massa sekitar 2,25 kali assanya yang sekarang. Namun pada awal sejarah tata surya, merkurius tertabrak oleh sebuah planetesimal berukuran sekitar seperenam dari massanya. Benturan tersebut telah melepaskan sebagian besar dari kerak dan mantel asli Merkurius dan meninggalkan intinya. Proses yang sama juga telah diajukan untuk menjelaskan penciptaan dari Bulan.
Teori yang lain menyatakan bahwa Merkurius mungkin telah terbentuk dari nebula Matahari sebelum energi keluaran Matahari telah stabil. Merkurius pada awalnya mempunyai dua kali dari massanya yang sekarang, namun dengan mengambangnya protomatahari, suhu di sekitar merkuri dapat mencapai sekitar 2500 sampai 3500 Kelvin dan mungkin mencapai 10000 Kelvin. Sebagian besar permukaan Merkurius akan menguap pada temperatur seperti itu, membuat sebuah atmosfir "uap batu" yang mungkin tertiup oleh angin matahari Teori ketiga mengajukan bahwa mengakibatkan tarikan pada partikel yang darinya Merkurius akan terbentuk sehingga partikel yang lebih ringan hilang dari materi pengimbuhan. Masing-masing dari teori ini memprediksikan susunan permukaan yang berbeda. Dua misi antariksa di masa datang, MESSENGER dan BepiColombo akan menguji teori-teori ini.

Fauna Indonesia





Fauna Indonesia memiliki keanekaragaman yang tinggi karena wilayahnya yang luas dan berbentuk kepulauan tropis[1].
Keanekaragaman yang tinggi ini disebabkan oleh Garis Wallace, membagi Indonesia menjadi dua area; zona zoogeografi Asia, yang dipengaruhi oleh fauna Asia, dan zona zoogeografi Australasia, dipengaruhi oleh fauna Australia[2]. Pencampuran fauna di Indonesia juga dipengaruhi oleh ekosistem yang beragam diantaranya: pantai, bukit pasir, estuari, hutan bakau, dan terumbu karang.
Masalah ekologi yang muncul di Indonesia adalah proses industrialisasi dan pertumbuhan populasi yang tinggi, yang menyebabkan prioritas pemeliharaan lingkungan menjadi terpinggirkan[3]. Keadaan ini menjadi semakin buruk akibat aktivitas pembalakan liar, yang menyebabkan berkurangnya area hutan; sedangkan masalah lain, termasuk tingginya urbanisasi, polusi udara, manajemen sampah dan sistem pengolahan limbah juga berperan dalam perusakan hutan.

Asal fauna Indonesia

Asal mula fauna Indonesia sangat dipengaruhi oleh aspek geografi dan peristiwa geologi di benua Asia dan Australia[4]. Pada zaman purba, pulau Irian (New Guinea) tergabung dengan




Hughasiusilum
Nama dari benua Ausralia 12.000.000 tahun yang lalu untuk sebagai landasan benua Australia yang akan dibentuk dari batuan yang umurnya muda yaitu kurang dari 2 juta tahun.
Benua Australia membentuk superbenua yang dinamakan superbenua selatan Gondwana. Superbenua ini mulai terpecah 140 juta tahun yang lalu, dan daerah New Guinea (yang dikenal sebagai Sahul) bergerak menuju khatulistiwa. Akibatnya, hewan di New Guinea berpindah ke benua Australia dan demikian pula sebaliknya, menimbulkan berbagai macam spesies yang hidup di berbagai area hidup dalam ekosistem. Aktivitas ini terus berlanjut dua daerah ini benar-benar terpisah. Di lain pihak, pengaruh benua Asia merupakan akibat dari reformasi superbenua Laurasia, yang timbul setelah pecahnya Rodinia sekitar 1 milyar tahun yang lalu. Sekitar 200 juta tahun yang lalu, superbenua Laurasia benar-benar terpisah, membentuk Laurentia (sekarang Amerika) dan Eurasia. Pada saat itu, sebagian wilayah Indonesia masih belum terpisah dari superbenua Eurasia. Akibatnya, hewan-hewan dari
Eurasia dapat saling berpindah dalam wilayah kepulauan Indonesia, dan dalam ekosistem yang berbeda, terbentuklah spesies-spesies baru.
Pada abad ke-19, Alfred Russel Wallace mengusulkan ide tentang Garis Wallace, yang merupakan suatu garis imajiner yang membagi kepulauan Indonesia ke dalam dua daerah, daerah zoogeografis Asia dan daerah zoogeografis Australasia (Wallacea)[5]. Garis tersebut ditarik melalui kepulauan Melayu, diantara Kalimantan (Borneo) dan Sulawesi (Celebes); dan diantara Bali dan Lombok.[6] Walaupun jarak antara Bali dan Lombok relatif pendek, sekitar 35 kilometer, distribusi fauna di sini sangat dipengaruhi oleh garis ini.
Sebagai contoh, sekelompok burung tidak akan mau menyeberang laut terbuka walaupun jaraknya pendek[6].



Paparan Sunda
Hewan-hewan di daerah paparan Sunda, yang meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan dan pulau-pulau kecil yang mengelilinginya, memiliki karakteristik yang menyerupai fauna di Asia. Selama jaman es, setelah Laurasia terpecah, daratan benua Asia terhubung dengan kepulauan
Indonesia. Selain itu, kedalaman laut yang relatif dangkal memungkinkan hewan-hewan untuk bermigrasi ke paparan Sunda. Spesies-spesies besar seperti harimau, badak, orangutan, gajah, dan leopard ada di daerah ini, walaupun sebagian hewan ini sekarang dikategorikan terancum punah. Selat Makassar, laut antara Kalimantan dan Sulawesi, serta selat Lombok, antara Bali dan Lombok, yang menjadi pemisah dari Garis Wallace, menandakan akhir dari daerah
paparan Sunda.

Mamalia
Paparan Sunda memiliki spesies berjumlah total 381. Dari jumlah itu, 173 di antaranya merupakan spesies endemik daerah ini.[7] Sebagian besar dari spesies-spesies ini terancam keberadaannya. Dua spesies orangutan, Pongo pygmaeus (orangutan Kalimantan) dan Pongo abelii (orangutan Sumatra) termasuk dalam daftar merah IUCN. Mamalia terkenal lain, seperti kera berhidung panjang Kalimantan (Nasalis larvatus), badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) juga sangat terancam jumlah populasinya.

Burung
Menurut Konservasi International, sebanyak 771 spesies unggas terdapat di paparan Sunda. Sebanyak 146 spesies merupakan endemik daerah ini. Pulau Jawa dan Bali memiliki paling sedikit 20 spesies endemik, termasuk Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dan Cerek Jawa (Charadrius javanicus).

Reptil dan Amfibia
Sebanyak 449 spesies dari 125 genus reptil diperkirakan hidup di paparan Sunda. Sebanyak 249 spesies dan 24 genus di antaranya adalah endemik. Tiga famili reptil juga merupakan endemik di wilayah ini: Anomochilidae, Xenophidiidae and Lanthanotidae. Famili Lanthanotidae diwakili oleh earless monitor (Lanthanotus borneensis), kadal coklat Kalimantan yang sangat langka dan jarang ditemui. Sekitar 242 spesies amfibia dalam 41 genus hidup di daerah ini. Sebanyak 172 spesies, termasuk Caecilian dan enam genus adalah endemik.

Ikan
Sebanyak hampir 200 spesies baru ditemukan di daerah ini dalam sepuluh tahun terakhir. Sekitar 1000 spesies ikan diketahui hidup di dalam sungai, danau, dan rawa-rawa di paparan Sunda. Kalimantan mempunyai sekitar 430 spesies, dan sekitar 164 di antaranya diduga endemik. Sumatra memiliki 270 spesies, sebanyak 42 di antaranya endemik.[8] Ikan arwana emas (Scleropages formosus) yang cukup terkenal merupakan contoh ikan di daerah ini.

Wallacea
Wallacea merupakan daerah transisi biogeografis antara paparan Sunda ke arah barat, dan daerah
Australasian ke arah timur. Daerah ini meliputi sekitar 338.494 km² area daratan, terbagi ke dalam banyak pulau kecil. Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan sebagian Nusa Tenggara merupakan bagian dari daerah ini. Karena faktor geografinya, daerah ini terdiri dari banyak jenis hewan endemik dan spesies fauna yang unik.

Mamalia
Wallacea mempunyai sejumlah 223 spesies asli mamalia. Sebanyak 126 di antaranya merupakan endemik daerah ini. Sebanyak 124 spesies kelelawar bisa ditemukan di daerah ini. Sulawesi, sebagai pulau terbesar di daerah ini memiliki jumlah mamalia yang paling banyak. Sejumlah 136 spesies, 82 spesies dan seperempat genus di antaranya adalah endemik. Spesies yang luar biasa, seperti anoa (Bubalus depressicornis) dan babi rusa (Babyrousa babyrussa) hidup di pulau ini. Sedikitnya tujuh spesies kera (Macaca spp.) dan lima spesies tarsius (Tarsius spp.) juga merupakan hewan khas daerah ini.

Burung
Sebanyak 650 spesies burung bisa ditemui di Wallacea, 265 spesies di antaranya adalah endemik. Di antara 235 genus yang ada, 26 di antaranya merupakan endemik. Sejumlah 16 genus hanya terdapat di Sulawesi dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Kira-kira, sebanyak 356 spesies, termasuk 96 spesies burung endemik hidup di Pulau Sulawesi. Salah satunya adalah maleo (Macrocephalon maleo), jenis burung yang terancam punah dan hanya ditemukan di sekitar Wallacea.

Reptil dan Amfibia
Dengan 222 spesies, 99 di antaranya endemik, Wallacea memiliki jenis reptil yang sangat beragam. Di antaranya adalah 118 spesies kadal yang 60 di antaranya adalah endemik; 98 spesies ular, 37 spesies di antaranya adalah endemik; lima spesies kura-kura, dua spesiesnya merupakan endemik; dan satu spesies buaya, buaya Indo-Pasifik (Crocodylus porosus). Tiga genus endemik ular yang hanya dapat ditemukan di wilayah ini: Calamorhabdium, Rabdion, dan Cyclotyphlops. Salah satu reptil yang mungkin paling terkenal di Wallacea adalah komodo (Varanus komodoensis), yang diketahui keberadaannya hanya di Pulau Komodo, Padar, Rinca, dan tepi barat Flores. Sebanyak 58 spesies amfibia khas dapat ditemukan di Wallacea. Sebanyak 32 spesies di antaranya adalah endemik. Ini menggambarkan kombinasi elemen katak daerah Indo-Melayu dan Australasia yang mempesona.

Ikan
Ada sekitar 310 spesies ikan tercatat dari sungai-sungai dan danau-danau Wallacea. Sebanyak 75 spesies di antaranya adalah endemik. Walaupun masih sedikit yang dapat diketahui mengenai ikan ikan dari Kepulauan Maluku dan Kepulauan Sunda Kecil, 6 spesies diketahui sebagai endemik. Di pulau Sulawesi, ada 69 spesies yang diketahui, 53 di antaranya adalah endemik. Danau Malili di Sulawesi Selatan, dengan kedalamannya yang kompleks dan arusnya yang deras memiliki paling sedikit 15 jenis ikan telmatherinid endemik, dua di antaranya mewakili genus endemik, tiga endemik Oryzia, dua endemik halfbeaks, dan tujuh endemik gobie.

Invertebrata
Terdapat sekitar 82 spesies kupu-kupu yang ada di daerah Wallacea, 44 spesies di antaranya adalah endemik. Sejumlah 109 spesies kumbang juga terdapat di sekitar daerah wilayah ini, 79 di antaranya adalah endemik. Satu spesies yang mengagumkan dan mungkin merupakan lebah terbesar di dunia, (Chalicodoma pluto) terdapat di utara Maluku. Serangga yang hewan betinanya bisa tumbuh sampai 4 cm ini, membangun sarang secara komunal pada sarang rayap di pepohonan hutan dataran rendah. Sekitar 50 moluska endemik, tiga spesies kepiting endemik, dan sejumlah spesies udang endemik juga diketahui berasal dari Wallacea.

Konservasi
Walaupun 45% daerah Indonesian masih belum berpenghuni dan ditutupi hutan tropis, pertumbuhan populasi Indonesia yang tinggi dengan industrialisasinya, secara perlahan mempengaruhi keberadaan fauna di Indonesia. Ditambah lagi, perdagangan hewan ilegal semakin menambah parah kondisi fauna Indonesia, termasuk di antaranya badak, orangutan, harimau, dan beberapa spesies amfibia[5]. Hingga 95% hewan yang dijual di pasar diambil langsung dari hutan dan bukannya melalui konservasi; dan lebih dari 20% hewan ini meninggal dalam perjalanan.[9]. Pada tahun 2003, World Conservation Union mencatat 147 spesies mamalia, 114 burung, 91 ikan dan 2 invertebrata termasuk dalam hewan-hewan yang terancam punah[9].

Sahabat Andra